Dia Lelaki Biasa (2)

Pukul 21.11 Wita. Dia kembali mengirimkan pesan via whatsup,
“Pi, Aku sudah melihatnya langsung, hanya sebentar saja, begitu banyak yang ingin kutanyakan padanya, tapi tahukah kau, saat aku berhadapan dengannya aku terlihat bodoh, semua pertanyaan yang kukumpulkan berhari-hari, terasa terbang tak bersisa, hilang semuanya. Kau tahu kenapa?  Aku begitu asik mendengarkan dia berkisah”.

“Dia memberondolku dengan banyak pertanyaan, dan pernyataan. Sosok yang sopan. Cara tutur katanya lembut , dan pelan.  Dia menceritakan sebagian besar tentang dirinya di masa lalu, padahal aku tak bertanya tentang masa lalunya, meski hatiku terusik untuk tahu lebih banyak tentang dia di masa lalunya”.

Kusimak saja setiap pesan yang dia kirimkan,  aku seakan berada di sekitar mereka, menyaksikan seperti apa pertemuan kedua sejoli ini. Selang beberapa saat,  pesan nya pun berlanjut. 

“Pi,  tapi ada satu hal yang membuatku ragu.” 

Apa yang membuatmu ragu? Tanyaku

“Sholathnya,  jujur dengan dia berbicara secara terbuka padaku,  tentang kekurangan perihal ibadah yang satu ini,  hatiku mulai tak karuan. ” Pi,  ini perkara sholath,  hal yang paling pertama Allah akan hisab di yaumul mizan nanti.  Dia berkata dengan lesu dan muka tertunduk dihadapanku.  La,  maafkan aku untuk perkara sholath jujur, kadang sholathku masih ada yang bolong.”

Laahaula walakuata illah billah.  Sesaat aku terdiam, berat untuk mengatakan ini . Kalau untuk aku sendiri,  untuk masalah lelaki yang akan kujadikan imam,  satu hal yang harus diperbaiki adalah sholathnya.  Jika sholathnya saja dia tinggalkan,  bagaimana dengan perkara yang lain?. 

“Itulah,  makanya aku meminta nasehatmu. Aku pun sama,  sholath adalah perkara utama,  tapi dia bilang, 

-Aku sekarang lagi belajar memperbaikinya-

Itu kalimat yang membuat aku sulit untuk berkata tidak. Dia mau belajar,  saya tidak tega memutus harapannya begitu saja. Yang aku pertanyakan,  kenapa dari sekian tahun kami tidak bertemu,  dia hanya mengarahkan pandangannya kearahku?  Padahal banyak teman,  rekan kerja wanitanya ,lebih baik dibanding aku”.

Aku tak tahu mau berkata apa,  aku pun tak berhak mengatakan,  kau cari saja yang lain, masih banyak laki-laki yang lebih baik di luar sana untukmu, bahkan kamu pernah kan ditawari seorang ustad oleh pihak keluargamu?  Kenapa kau tak iyakan saja. Egois memang diri kita ini, Allah sodorkan lelaki yang selevel ustad pun kita tolak,  padahal jika saja boleh dikembalikan ke diri,  sudah sesholeha apa diri ini?.  Mau jodoh yang seperti apa dirimu?. Lalu tiba-tiba Allah sodorkan sosok lelaki  yang berbalik 180 derajat dari kriteriamu,  mampu membuatmu ragu,  bahkan hampir tidak tega mengatakan tidak. Aku bukannya meremehkan dia yang datang menemuimu.  

Karena Rasullulah SAW pun pernah bersabda: “Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499)

Tapi ada satu hal.  Katakan padanya “Jangan biarkan dia hijrah hanya karenamu, tapi hijrahlah karena Lillah (Allah) .”

-Sulewana 16 Januari 2018-

Iklan

Dia Adalah Laki-laki Biasa (1)

Percakapan dimulai, saat sahabatku mengirimkan pesan singkat untukku via whatsup,
“Dia, laki-laki biasa. Sangat biasa. Jauh dari laki-laki dengan penampilan celana gantung,  sedikit berjenggot, penghapal qur’an, dan punya tanda sujud dikeningnya. Tapi ada sedikit yang saya tahu darinya, dia ingin belajar”.

“Lelaki yang besok saya temui cukup berbeda jauh dari yang pernah aku impikan. Entah kebaikan apa yang Allah akan tunjukkan untukku, perihal tentangnya”.

“Bagaimana menurut upi?”

Karena dia meminta pendapatku, ku baca baik-baik pesannya, bahkan berulang-ulang, mungkin 3 sampai 4 kali. Ini bukan perkara mudah. ini tentang pasangan hidup yang tak hanya dilalui sehari, tetapi jika harus, maka kau temani dia sampai hanya ajal yang memisahkanmu.

Ku balas pesannya, dengan pemikiranku, “Setidaknya ada hal yang kau harus garis bawahi, dia mau belajar, bahkan jika kalian pun sudah menikah, kalian tetap masing-masing masih tetap belajar, dimulai dari mengenal satu sama lain, sampai kepada hal yag lebih spesifik, setidaknya kalin bisa sama-sama belajar.

-Sulewana, 20 November 2017-

 

Kehilangan Yang Tak Biasa

Pernahkah kau merasa kehilangan, namun orang tersebut sama sekali tak kau kenal. Bertutur sapa,
bahkan melihat wajahnya pun tak pernah, hingga Allah menginginkanmu agar kau melihat berita
tentangnya. Berita tentang kematiannya. Dan saat kau melihat beritanya, kerongkonganmu  serasa tercekat,

air matamu tetiba membasahi pipi, dan dadamu pun ikut sesak.
Dan kau pun sangat cemburu akannya, cemburu ketika dalam baris berita kematiannya, ada kalimat
yang sangat indah mengiringi kepergiannya, begitu inginnya agar kalimat itu pun kelak tertuju untukmu.
 "AKHI..
Kesedihan yang mendalam membuat lisan kelu dan aku kehabisan kata-kata..
Rahimakallah rahmatan wasi'ah..
Saya salah satu saksi, engkau salah seorang ikhwah yang tulus dan ikhlas insya Allah..
Sampai jumpa di Syurga, Amin.." (Kutip Ustad Harman Tajang)
Indah Bukan???...

Aku cemburu akanmu, cemburu karena begitu indah tempat berkumpulmu.

Kau berkumpul dengan orang-orang sholih, hingga saat Allah pun memanggilMU.

Aku cemburu, karena aku pun tak tahu akankah ada yang mau menjadi saksi jika saat dimana Aku tidak ada disurga, adakah yang akan menanyakanku?

Dimana saudari kami Sulfiani, kami pernah duduk bermajelis bersama, kami pernah saling menasehati dalam kebaikan, kami pernah saling mengingatkan akanMu. Kami pernah Sholath berjama’ah bersama dengannya, dan dia mengimamiku.
Akan adakah yang menanyakanku?

Bantuan

Maka akan sangat bersedihlah, ketika diakhir hayat tidak ada yang menjadi saksi kebaikan diri. Meski begitu menggunungnya keburukan diri. Yang mungkin bisa saja menutupi segala kebaikan yang dilakukan.

Semoga kau Khusnol Khotimah Wahai saudaraku seiman -Vijaya Kusuma-
Semoga Allah mempertemukan kita disurga sebagai saudara seiman.
Dan Mudah-mudahan aku ikut menjadi bagian dari SurgaNya yang Maha Pengasih.

-Desa Sulewana- 12 Agustus 2017 4.19PM

 

We are Strong for A Reason…

Karena setiap orang punya alasan masing-masing untuk bertahan dan menjadi kuat, jazakillah atas tulisannya mba 🙂

Dewi Nur Aisyah

“Strength grows in the moment when you think you can’t go on but you keep going anyway” (unknown)

Seorang nenek tua tengah memanggul karung beras yang mungkin beratnya lebih dari 25 kg. Dengan perlahan, ia menapaki jalanan berbukit di pedesaan dalam. Sembari menyapa saat bertatapan dengannya, “Mbah, iku abot, kulo bantu nggeh?” (artinya, mbah itu berat, saya bantu ya). Lalu si mbah dengan keriput yang terlihat jelas di wajahnya tersenyum dan berkata “Rapopo. Sampun sakbendino. Kuat insya Allah…” (Gapapa. Udah biasa setiap hari. Kuat insya Allah). Dan ternyata, nenek itu hidup bersama 2 orang cucunya, sedang anak dan menantunya merantau ke kota. Maka ia tetap bertani dan memanen untuk membesarkan cucu yang dititipkan kepadanya.

———

Di siang terik panas, terdengar suara serak seorang kakek “Bale baleeee…. Balenya buuuu….”. Agak parau terdengarnya. Hingga akhirnya suara itu terdengar semakin jelas, dan dapat saya lihat sosok tua dengan keringat menderas di punggungnya…

Lihat pos aslinya 687 kata lagi

Ayah

Jika Ditanya , siapa yang lebih aku sayangi, “Ibuku, atau ayahku?”, maka jika engkau meminta memersenkan, aku memilih 40% untuk ibuku 60% untuk ayahku.
Tetapi pada dasarnya kadar kasih sayang mereka ke aku tidak bisa diukur, namun dari banyak kenangan yang lekat dalam ingatanku adalah dominan tentang ayah.

Dari kecil aku memang lengket dengan ayah (bukan lengket kayak prangko), maksudnya kemana-mana , kalau memilih jalan-jalan atau silaturrrahim aku memilih untuk ikut ayah, ke kebun juga sering ikut ayah, bahkan sampai perkara memperbaiki motor atau sepeda juga sering bantu ayah .

Ada kenangan yang sering sekali terlintas diingatanku. Salah satunya, saat aku berusia kira-kira 5 tahun, ayah mengajakku ke pelabuhan naik sepeda, beliau menggendong dan mendudukkan ku lebih dulu di boncengan belakang , baru beliau naik kesepedanya, sambil berkata “Peluk pinggang ayah dan jangan dilepas jika belum sampai ketempat tujuan”. Sesampainya di pelabuhan, mataku tertuju pada beberapa onggok kacang tanah dengan kulitnya (kacang tanah oseng-oseng, yang digoreng menggunakan pasir tetapi masih lengkap dengan kulitnya). Ternyata ayah mengerti maksud dari pandanganku, dan beliau membelikan satu kantuk plastik kecil. Mungkin ini perhatian sederhana, namun aku suka. Dan ingatan itu tak lekang oleh waktu.

“Sesuatu hal  yang sederhana, namun tulus itulah yang akan nyaman di hati, dan lekat dalam ingatan.”

 

Antara Kecewa dan Iman Kita

“Just because you don’t see the good in something doesn’t mean it’s not there. Allah has plan for everything. Something that seems bad at the moment can be the best thing that’s going to happen later on” (anonymous)

Dewi Nur Aisyah

“The moment we understand that Allah’s decision is always in our best interest, everything will start to make sense”

Catatan ini merupakan hasil kontemplasi saya sore ini (hayeuh gaya yak pake berkontemplasi segala 😀 ). Berawal dari sharing kisah pergi umroh yang seolah “Allah tak izinkan”, hingga beberapa hari kemudian Allah mudahkan si adik berangkat ke tanah haram. Sama persis dengan kisah ibu saya, saat Allah mudahkan keberangkatan ayah, mama dan papa mertua saya, namun visa ibu saya tidak keluar hari Sabtu sesuai dengan jadwal keberangkatan. Lemas ia mendapat kabar bahwa belum bisa berangkat, padahal saat itu sudah siap sedia di bandara. Tentu pedih yang memenuhi hatinya saat harus melangkah pulang ke rumah, sedangkan suami dan besan-nya dapat berangkat bersama. Banyak hal berkecamuk dalam pikirannya, mulai dari beliau yang tidak bisa berangkat tahun ini, kalau pun berangkat sendirian tentu akan bingung karena tidak ada teman, apakah nanti akan nyasar, dan…

Lihat pos aslinya 666 kata lagi

Berani dan Mengalah

Bismillahirrahmanirahim

Banyak yang menanyakan masalah “Kapan nikah?”, mungkin karena usiaku sudah hampir kepala 3.

Sama halnya dengan kematian, tak ada yang tahu kapan jodoh itu datang, karena mati, jodoh dan rejeki itu rahasia Tuhan.

Mungkin beberapa orang akan berpikir, diri sudah usaha maksimal atau tidak, misalnya menawarkan diri dijodohkan atau dikenalkan dari teman dan kerabat.

Karena jika hanya mengandalkan do’a dan tidak ada usaha yang terealisasi maka hasilnya juga nihil.

Tapi setiap orang punya presepsi berbeda tentang pernikahan, jika saja saya bisa memilih maka saya lebih memilih untuk memperbaiki akhlak lebih dulu, karena kelak jika ingin mempunyai anak yang sholeh sholeha maka, itu cerminan dari diri. Bukan dari bentukan instan. 

Tapi bukan berarti, meski belum menikah ya, tetap terus belajar, bagaimana diri semestinya jika menikah nanti. Dan ini ada tulisan yang aku temukan di facebook, tulisannya bagus dan bisa jadi pembelajaran, entah itu untuk yang sudah menikah atau yang belum menikah. fb_img_1465133077084

-MENIKAH : SENI MENGALAH-

Beberapa pekan jelang menikah, saya yang kala itu masih berusia 22 tahun, meguru pada ibu. Apa yang perlu dilakukan agar pernikahan berjalan damai?

 

Ibu menjawab tanpa berpikir panjang. Seolah pertanyaan yang saya ajukan se sepele resep sayur lodeh.

 

“Nikah ki yo anggere wani ngalah..” (Nikah itu pokoknya berani mengalah)

 

Dua kata yang menggedor batin saya: BERANI dan MENGALAH

 

Kata BERANI biasanya disandingkan dengan hal yang berat, bahkan horor. “Berani mati” misalnya. Tapi ibu menyandingkan kata itu dengan MENGALAH. Saya mulai memahaminya sebagai tugas berat, yang tidak semua orang mau dan mampu menjalankannya.

 

Mengalah

 

Dan ini yang pada akhirnya saya jumpai, lalu saya pelajari dari lelaki yang sejak 18 tahun lalu saya dapati memiliki kepribadian baik.

 

Saat pernikahan masih serba kekurangan, dia akan lebih dulu mengambil piring plastik agar saya bisa menggunakan piring beling.

 

Saat anak belum lulus toilet training, dia yang akan bangun di tengah malam untuk menatur si kecil, padahal yang anak panggil saat itu adalah ibunya.

 

Saat makan di luar, dia akan makan dengan terburu-buru agar bisa cepat bergantian menggendong si kecil. Demi kuah bakso di mangkok saya tidak keburu dingin.

 

Saat mendapati satu bacaan yang menarik, dan saya tertarik, dia akan mengangsurkan bacaan itu. “Bacalah lebih dulu. Aku sudah selesai”

 

Saat memasak dan jumlah masakan itu terbatas. Bukan saya yang menyisihkan untuk bagiannya, tapi dia yang akan mengambilkan lebih dulu untuk saya, dalam jumlah yang lebih banyak darinya. “Aku sudah kenyang..” dan saya tahu itu bohong.

 

Saat ada sepotong roti, dia akan membaginya tidak sama besar. Tapi saya yang lebih besar. “Kamu kan menyusui. Butuh lebih banyak kalori..” dan kami akan berdebat panjang, lalu diakhiri dengan saya tidak akan memakan bagian yang besar itu sampai dia tarik kembali agar beratnya sepadan.

 

Saat saya akan memakai kamar mandi belakang (yang ukurannya lebih kecil dari kamar mandi depan) dia yang sedang berada di kamar mandi depan segera keluar dan meminta saya menempatinya. “Aku di belakang aja. Nanti kamu kaget kalau banyak kecoa..”

 

Saat saya marah, meski kemarahan itu tidak masuk akal, dia yang mendekat, mengangsurkan tangan dan meminta maaf. Padahal masalah sebenarnya pun belum terang ia cerna.

 

Ini akhlak. Ini ngalah. Dan ini cinta

 

Entah bagaimana caranya dia tidak bosan mengalah, dan tidak pula berdendang “Mengapa s’lalu aku yang mengalah..”

 

Enteng saja dia menjalani itu. Ikhlas saja. Senang-senang saja. Tapi dampaknya sangat besar buat saya.

 

Apa itu? Penghormatan, penghargaan, dan respek.

 

Untuk segi kematangan emosional, saya tertatih-tatih di belakangnya. Marah dan mau menang sendiri, selalu menjadi bagian saya.

 

Tapi sikap ngalah yang dia tunjukkan, lambat laun jadi mematangkan emosi itu. Sekaligus membuat saya juga jadi ingin mengalah. Ngalah untuk tidak memancing sikap ngalahnya, yang saya rasa sudah berlebihan dia beri pada saya.

 

Ya..ya.. pernikahan memang selaiknya menjadi hubungan yang take and give. Saling memberi saling menerima. Saling menutupi dan memahami.

 

Tentu jika hanya satu pihak saja yang terus mengalah, dan pihak yang lain memanfaatkan sikap ngalah itu, kedamaian hanya jadi angan. Karena pasti ada bom waktu di balik sikap ngalah itu.

Namun mengalah adalah seni untuk memenangkan hati pasangan. Dan pasangan yang baik (baca: tahu diri) pasti akan menyambut sikap ngalah ini dengan suka cita, kesyukuran, lalu menghargai usaha dari pasangannya.

 

Mungkin ini yang membuat ibu menjawab “ngalah” sebagai kunci kedamaian berumah tangga.

***

Dan kini saya pun bertanya padanya, si lelaki pengalah itu. “Mengapa kamu selalu mengalah padaku?”

Jawabannya sederhana saja. Se-sederhana resep sayur lodeh:

“Aku tidak pernah merasa ngalah. Yang aku lakukan hanyalah menjaga agar kita tidak pernah terpecah belah..”

Untukmu yang berani mengalah,

Saya copas dari tulisannya Mbak Wulan Darmanto

IMG_20160430_224332.jpg